Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mencakup Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, menyimpan khazanah budaya yang luar biasa kaya. Dengan keberagaman etnis seperti Suku Sasak di Lombok serta Suku Samawa dan Mbojo di Sumbawa, provinsi ini memiliki segudang tradisi yang eksotis dan unik. Sayangnya, banyak di antara warisan budaya tersebut yang masih "tertidur lelap" tanpa pengelolaan serius, padahal jika dikemas menjadi pagelaran atau pertunjukan yang profesional, potensinya untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara sangatlah besar.
Artikel ini akan mengupas beberapa budaya NTB yang dinilai memiliki daya tarik tinggi namun belum dikelola secara optimal, serta bagaimana peluang pengembangannya untuk mendukung industri pariwisata daerah.
Apa itu Begasingan?
Begasingan adalah tradisi permainan gasing khas Suku Sasak di Lombok yang menggunakan gasing berukuran besar dengan berat mencapai 3-5 kilogram. Berbeda dengan gasing pada umumnya, Begasingan membutuhkan keterampilan khusus dan kekuatan fisik yang mumpuni untuk memutarnya.
Mengapa Belum Terkelola dengan Baik?
Meskipun tradisi ini masih hidup di beberapa desa seperti Desa Lenek dan Desa Suradadi di Lombok Timur, Begasingan hanya dimainkan pada momen-momen tertentu seperti setelah musim panen. Tidak ada jadwal pertunjukan rutin, infrastruktur pendukung yang memadai, maupun promosi yang masif.
Potensi sebagai Atraksi Wisata
Bayangkan sebuah festival gasing internasional yang menampilkan Begasingan sebagai atraksi utama, dikombinasikan dengan musik tradisional dan kuliner lokal. Wisatawan tidak hanya bisa menonton, tetapi juga berpartisipasi dalam workshop membuat dan memainkan gasing. Konsep experiential tourism seperti ini sangat diminati wisatawan modern yang mencari pengalaman autentik.
Cerita yang Sarat Nilai
Cupak Gerantang adalah legenda rakyat Sasak yang mengisahkan tentang dua bersaudara dengan karakter berbeda, Cupak yang serakah dan Gerantang yang bijaksana. Cerita ini sarat dengan nilai moral tentang kejujuran, keberanian, dan keadilan.
Kondisi Saat Ini
Cerita Cupak Gerantang umumnya hanya dituturkan secara lisan oleh para tetua atau sesekali dipentaskan dalam skala kecil di acara-acara desa. Belum ada upaya serius untuk mengemas cerita ini menjadi pertunjukan teatrikal modern dengan standar produksi yang profesional.
Peluang Pengembangan
Cupak Gerantang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi:
Jika dikemas secara profesional seperti Sendratari Ramayana di Prambanan, Cupak Gerantang bisa menjadi ikon pertunjukan budaya NTB.
Warisan dari Kesultanan Bima
Mpaa Lenggo adalah tarian klasik dari Bima, Sumbawa, yang dulunya hanya dipersembahkan di lingkungan Kesultanan Bima. Gerakan tarian ini sangat halus dan anggun, mencerminkan etika dan estetika budaya istana.
Kondisi Terkini
Setelah era kesultanan berakhir, Mpaa Lenggo jarang dipentaskan dan hanya dikenal oleh segelintir penari senior. Regenerasi penari sangat lambat, dan dokumentasi mengenai tarian ini pun terbatas.
Upaya yang Diperlukan
Kemeriahan Adat Pernikahan Sasak
Nyongkolan adalah arak-arakan pengantin dalam tradisi pernikahan Suku Sasak. Prosesi ini melibatkan ratusan hingga ribuan orang yang berjalan kaki mengantar pengantin pria ke rumah pengantin wanita, diiringi musik Gendang Beleq yang menggelegar.
Potensi yang Belum Dimaksimalkan
Meskipun Nyongkolan sudah cukup dikenal, belum ada pengelolaan khusus untuk menjadikannya sebagai atraksi wisata terjadwal. Wisatawan yang ingin menyaksikan Nyongkolan harus bergantung pada kebetulan—apakah ada pernikahan saat mereka berkunjung atau tidak.
Gagasan Pengembangan
Legenda Putri Mandalika
Bau Nyale adalah tradisi menangkap cacing laut (nyale) yang muncul setahun sekali di pesisir selatan Lombok, biasanya pada bulan Februari-Maret. Tradisi ini berkaitan dengan legenda Putri Mandalika yang menceburkan diri ke laut dan berubah menjadi nyale.
Tantangan Pengelolaan
Meskipun Festival Bau Nyale sudah diadakan setiap tahun, pengelolaannya masih belum optimal:
Rekomendasi Pengembangan
Perpaduan Seni Bela Diri dan Religi
Rudat adalah seni pertunjukan khas Lombok yang memadukan gerakan pencak silat dengan lantunan syair-syair Islami. Penampilan Rudat biasanya dilakukan oleh sekelompok pria dengan kostum seragam, bergerak kompak diiringi rebana.
Status Saat Ini
Rudat masih eksis di beberapa desa di Lombok, terutama saat perayaan hari besar Islam atau acara hajatan. Namun, Rudat belum dikelola sebagai produk wisata budaya yang bisa dinikmati wisatawan sepanjang tahun.
Konsep Pengembangan
1. Keterbatasan Anggaran
Pemerintah daerah sering kali memiliki anggaran terbatas untuk pengembangan seni budaya. Dana yang ada lebih banyak dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur fisik.
2. Minimnya SDM Kreatif
Kurangnya tenaga profesional di bidang manajemen seni pertunjukan, event organizer, dan industri kreatif menjadi hambatan serius.
3. Kurangnya Sinergi Antar-Pemangku Kepentingan
Pemerintah, pelaku seni, komunitas adat, dan pelaku industri pariwisata sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang baik.
4. Regenerasi yang Lambat
Banyak kesenian tradisional yang hanya dikuasai oleh generasi tua. Generasi muda kurang tertarik karena tidak melihat prospek ekonomi dari berkesenian.
5. Dokumentasi yang Minim
Banyak tradisi yang tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga sulit untuk diperkenalkan ke dunia luar.
1. Membangun "Cultural Hub"
Mendirikan pusat kebudayaan terpadu di lokasi strategis (misalnya di Mataram atau Sumbawa Besar) yang menjadi tempat pertunjukan rutin berbagai kesenian NTB.
2. Menciptakan Kalender Budaya Tahunan
Menyusun jadwal festival dan pertunjukan sepanjang tahun sehingga wisatawan bisa merencanakan kunjungan mereka.
3. Menggandeng Industri Kreatif
Berkolaborasi dengan sineas, musisi, desainer, dan kreator konten untuk mengemas budaya NTB dalam format yang lebih menarik bagi generasi milenial dan Gen-Z.
4. Digitalisasi Warisan Budaya
Membuat arsip digital berupa video, foto, dan narasi tentang berbagai tradisi NTB yang bisa diakses secara online.
5. Memberikan Insentif bagi Pelaku Seni
Menyediakan bantuan modal, pelatihan, dan jaminan ekonomi bagi seniman dan komunitas adat yang melestarikan budaya.
6. Memasarkan secara Agresif
Memanfaatkan media sosial, kerja sama dengan influencer, dan partisipasi dalam pameran pariwisata internasional untuk mempromosikan kekayaan budaya NTB.
Bali dengan Tari Kecak Uluwatu
Bali berhasil menjadikan Tari Kecak di Pura Uluwatu sebagai atraksi wajib bagi wisatawan. Kunci keberhasilannya adalah: lokasi yang ikonik, jadwal pertunjukan yang konsisten, promosi yang masif, dan pengalaman menonton yang tak terlupakan dengan latar belakang matahari terbenam.
Yogyakarta dengan Sendratari Ramayana
Pertunjukan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan adalah contoh sukses bagaimana kisah epik tradisional bisa dikemas menjadi tontonan kelas dunia dengan melibatkan ratusan penari dan produksi yang spektakuler.
NTB memiliki modal budaya yang tidak kalah kaya. Yang dibutuhkan adalah visi, strategi, dan eksekusi yang tepat.
Nusa Tenggara Barat menyimpan harta karun budaya yang nilainya tak ternilai. Tradisi seperti Begasingan, Cupak Gerantang, Mpaa Lenggo, Nyongkolan, Bau Nyale, dan Rudat memiliki potensi luar biasa untuk menjadi magnet wisatawan jika dikelola dengan serius dan profesional.
Pengembangan budaya sebagai produk pariwisata bukan hanya soal mendatangkan devisa, tetapi juga tentang melestarikan identitas dan kebanggaan lokal. Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, komunitas adat, pelaku seni, dan industri pariwisata, bukan tidak mungkin NTB akan menjadi destinasi wisata budaya yang sejajar dengan Bali dan Yogyakarta.
Sudah saatnya permata budaya NTB tidak lagi terpendam, melainkan bersinar terang menerangi dunia.
"Budaya adalah jati diri sebuah bangsa. Melestarikannya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama."
#BudayaNTB #WisataBudaya #Lombok #Sumbawa #PariwisataIndonesia #GTAB #GemaNusa